Showing posts with label Keikhlasan. Show all posts
Showing posts with label Keikhlasan. Show all posts

Wednesday, August 10, 2016

MEMBERI, BUKAN MENERIMA

MEMBERI, BUKAN MENERIMA

Suatu saat saya sedang naik bis kota. Tiba-tiba ada seorang laki-laki naik bis tersebut. Saya kira penumpang. Tiba-tiba dia berbicara di depan penumpang dengan lancarnya. Ngomongnya bak seorang mubaligh sedang ceramah. Dia memiliki gaya bicara yang bagus, lancar tanpa tersendat. Tidak ada grogi. Dia juga membacakan berbagai hadist dan ayat Al Quran dengan lancar dan cukup fasih. Dia membahas tentang hari akhirat dan manfaat memberi agar selamat di akhirat.

Saya mengakui cukup mendapatkan ilmu saat mendengarkan “ceramahnya”. Dia juga menunjukkan “kekritisannya” terhadap orang-orang kaya dan para pejabat. Inti dari ceramahnya adalah orang-orang kaya dan pejabat harus mau memberi kepada sesama demi kebaikan mereka sendiri. Bukan hanya itu gaya bicara pun cukup menghibur dengan diselingi canda dan tawa.

Setelah selesai ceramah panjang lebar, dia mengambil sesuatu dari sakunya. Anda sudah menebaknya? Betul, dia mengeluarkan sebuah plastik untuk meminta uang dari penumpang. Dia menghampiri satu persatu penumpang sambil menyodorkan plastik dan tidak lepas diiringi dengan senyum. Sampai di hadapan saya, dan saya melambaikan tangan tanda meminta maaf. Sebenarnya saya hanya tidak mau memberi dia saja.

Saya hanya berpikir, bukankah dia memahami makna dan manfaat memberi? Tetapi yang dia lakukan justru ingin menerima. Seolah memberi untuk orang lain dan menerima untuk dirinya. Orang lain memang harus memberi, terutama memberi kepada dirinya.

BERHENTI SAAT MEMILIKI KEINGINAN

BERHENTI SAAT MEMILIKI KEINGINAN

Darimanakah datangnya sebuah keinginan? Keinginan datang dari hati yang selalu bolak balik. Bisa jadi sebuah keinginan itu adalah keinginan yang baik atau sebaliknya. Sayangnya kita sering kali tidak melihat sesuatu dibalik keinginan karena perhatian kita fokus pada keinginan, bukan pada apa yang ada dibalik keinginan.

Para ahli pemasaran atau penjualan sering mengatakan bahwa keputusan seseorang membeli sesuatu, lebih sering disebabkan oleh keinginan. Kemudian, logika membenarkan keinginan tersebut. Emosi seringkali lebih berperan dalam mengambil keputusan dibandingkan dengan pikiran atau logika.

Jika keinginan selalu kita turuti, artinya hidup kita akan dikendalikan oleh emosi. Emosi datang dari hawa nafsu yang rentan dipengaruhi oleh faktor luar (teruma syaithon). Pikiran bawah sadar kita, bisa menerima informasi jauh lebih cepat dibandingkan pikiran sadar. Sehingga pola yang terbentuk dalam pikiran bawah sadar, sering kali tidak kita sadari. Keinginan datang dari sana, dengan pola yang tidak kita sadari. Maukah kita turuti saja?

Jika keinginan selalu kita turuti, artinya kita tidak bisa mengendalikan hidup kita. Hidup kita akan terombang ambing sebagaimana terbolak-baliknya hati kita. Peran logika atau akal akan terabaikan atau hanya sebagai pembenaran keinginan kita. Sungguh, kita mangabaikan potensi akal yang sudah Allah berikan kepada kita.

BE DO HAVE – BUKTI NIAT MULIA

BE DO HAVE – BUKTI NIAT MULIA

ANDA PUNYA NIAT MULIA?

Banyak orang yang memiliki niat mulia, namun ada syarat, yaitu jika sudah…. Sebagai contoh saya akan berinfaq jika sudah kaya. Lalu apa hubungan dengan konsep Be Do Have?

Kita mungkin pernah mendengar atau kita sendiri mengatakan bahwa jika kita sudah berhasil, jika kita sudah kaya, jika kita sudah banyak uang, kita akan banyak membantu sesama. Kita akan fokus di dakwah, kita akan banyak menyumbang anak yatim piatu, memberi makan fakir miskin, dan berbagai perbuatan mulia lainnya.

NIAT MULIA DAN KONSEP BE DO HAVE

Be Do Have adalah suatu konsep yang saya baca dalam buku One Minute Millionaire (Mark Victor Hansen and Robert G. Allen) untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, khususnya dalam buku tersebut untuk menjadi seorang milyarder yang tercerahkan, Enlightened Millionaire. Uniknya konsep ini bukan diawali oleh kerja (do) menuju milyarder, tetapi diawali oleh menjadi (be).

Konsep ini mengajarkan kita untuk menjadi milyarder terlebih dahulu. Setelah kita menjadi, kita mengerjakan tindakan apa saja yang diperlukan. Hal ini akan menjadikan tindakan kita lebih efektif. Tindakan akan sesuai dan serasi dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Jika kita sudah berpikir bahwa kita sudah menjadi apa yang kita inginkan maka tindakan akan mengikutinya. Setelah kita menjadi (be) apa yang kita inginkan, kemudian mengerjakan (do) pekerjaan yang harus dilakukan, maka kita akan memiliki (have) hasil yang kita lalui.

MINTALAH PERTOLONGAN ALLAH

MINTALAH PERTOLONGAN ALLAH

BAGAIMANA PUN HEBATNYA MANUSIA TETAP MEMERLUKAN PERTOLONGAN ALLAH

pertolongan AllahAllah menciptakan manusia dengan segala keterbatasan dan kelemahannya disamping kelebihan dan kekuatannya, inilah mengapa kita memerlukan pertolongan Allah. Kita harus memahami keterbatasan dan kelemahan ini agar kita menyadari akan kelemahan kita dan mampu mengatasi kelemahannya tersebut dan menjadikanya kemuliaan.

Sebagai makkhluk, manusia lemah, manusia diciptakan dengan keterbatasan fisik dan akal. Fisik manusia tidak akan mampu menggerakan alam semesta ini dengan tenaganya, bahkan juga akal manusia dengan berbagai hasil teknologinya. Manusia sangat lemah dihadapan Allah sehingga diperlukan untuk meminta bantuan dan pertolongan Allah SWT.

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS.4:28)

Kelemahan manusia lainnya ialah bodoh. Seperti apa yang difirmankan Allah,

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS.33:72)

MAAFKANLAH

MAAFKANLAH

Kesalahan, kegagalan, atau tindakan yang menyakitkan akan membuat hati kita sedih dan kecewa. Ini adalah perasaan yang negatif, perasaan negatif akan memberikan efek berupa motivasi yang lemah. Oleh karena itu kita perlu menghilangkan perasaan negatif ini dalam hati kita, caranya ialah dengan memaafkan.

Siapa yang harus dimaafkan?
Yang pertama justru Anda sendiri. Kesalahan dan kegagalan dimasa lalu adalah sudah berlalu. Jangan diingat dan menyalahkan diri sendiri terus menerus, maafkan diri Anda, ambil hikmah dan lupakan kesedihannya. Dengan memaafkan diri sendiri akan melepaskan energi negatif dalam diri Anda. Diri kita tidak bisa kosong dan hanya bisa terisi oleh satu energi, maka saat energi negatif pergi, akan muncul energi positif. Ini akan memberikan semangat baru bagi Anda.

Jika kesalahan Anda berhubungan dengan dosa, maka mintalah pengampunan dari Allah. Yakinlah bahwa Anda akan diampuni selama Anda melakukan taubat yang benar-benar taubat karena Allah Maha Pengampun dan Penerima Taubat hamba-Nya. Dalam berbagai ayat Al Quran dan Hadits, Allah telah berjanji akan mengabulkan do’a dan taubat kita jika mau melakukannya. Percayalah rahmat Allah lebih luas dari murka-Nya.

Monday, August 8, 2016

MEMBUMIKAN SHABAR UNTUK MERAIH SUKSES DUNIA AKHIRAT

MEMBUMIKAN SHABAR UNTUK MERAIH SUKSES DUNIA AKHIRAT

MELIHAT MAKNA SHABAR LEBIH JAUH

membumikan shabar

Banyak sekali hadits, ayat, dan atsar para sahabat tentang keutamaan shabar. Diantara banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaan shabar yang cukup mewakili adalah QS al Baqarah: 157, yang artinya:

“Merekalah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka. Dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.al Baqarah:157)

Yang dimaksud mereka dalam ayat ini adalah orang-orang yang shabar, sebab jika dilihat dari ayat 153, sedang membahas orang-orang yang shabar.

Anda juga bisa membahas artikel lainnya yang pernah dibahas di Motivasi Islami tentang shabar. Bahasan kali ini akan fokus mendalami bagaimana cara kita membumikan shabar dalam kehidupan sehari-hari.

Shabar adalah setengah dari iman. Ini menunjukan bagaimana dalamnya makna shabar. Shabar tidak hanya bisa artikan sebagai diam. Dalam konteks tertentu, artinya diam. Tapi lain lagi saat sedang berperang. Jika harusnya berperang, tetapi Anda diam, itu bukan shabar. Jika harusnya Anda berusaha, tetapi diam, Anda juga bukan orang yang shabar.

BERSABARLAH DALAM MEMAHAMI

BERSABARLAH DALAM MEMAHAMI

Dalam memahami sesuatu, kita memerlukan sebuah kesabaran. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan atau mengabaikannya. Terlalu cepat mengambil kesimpulan bisa menjadikan kesimpulan kita salah. Jika kita terlalu cepat mengabaikan, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Mungkin, perilaku ini tidak merugikan kita, tetapi kita bisa melewatkan peluang yang bisa jadi ada di hadapan kita. Peluang bisnis, peluang kerja, dan setidaknya mendapatkan peluang mendapatkan ilmu atau pemahaman baru.

Jika kita belajar kepada Einstein, dia mengaku kalau dia tidak pintar-pintar banget, dia hanya lebih lama dalam memikirkan masalah. Sebagaimana dia katakan:

It’s not that I’m so smart, it’s just that I stay with problems longer.
Dengan berpikir lebih lama, maka kita akan memiliki pemahaman yang lebih mendalam. Kita akan mendapatkan ilmu dan kebijakan yang lebih baik. Bisa jadi kita akan menemukan ide atau peluang yang akan bermanfaat bagi kehidupan kita. Dan, hal ini tidak akan kita dapatkan jika kita terlalu cepat mengambil kesimpulan atau langsung mengabaikan apa yang tidak kita pahami.

Jika sesuatu yang kita baca, kita perhatikan, atau masalah yang kita hadapi begitu sulit untuk kita hadapi, bisa jadi yang menjadi masalah ada pada diri kita. Artinya kita perlu meningkatkan wawasan dan ilmu kita agar bisa memahami apa yang ada di hadapan kita. Ingatlah waktu kita sekolah, saat kita menemukan soal yang sulit, langkah yang terbaik adalah belajar lagi sampai kita bisa mengerjakan soal tersebut. Bukan malah memarahi guru dan menyuruhnya membuat soal yang lebih mudah.